Syekh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam berkata:
“Bagaimana mungkin dapat dibayangkan, kalau sesuatu dapat menjadi hijab atas-Nya, padahal Dia-lah yang menampakkan segala sesuatu?”
Ungkapan ini menggugah hati kita untuk merenung. Seringkali manusia merasa bahwa dunia dengan segala hiruk-pikuknya adalah penghalang antara dirinya dan Allah. Seolah pekerjaan, harta, keluarga, bahkan cobaan hidup menjadi tabir yang menutup jalan menuju-Nya.
Namun sejatinya, semua itu bukanlah hijab. Justru segala sesuatu di dunia ini adalah penampakan dari kekuasaan-Nya. Langit yang luas adalah tanda kebesaran-Nya, rezeki yang datang adalah bukti kasih sayang-Nya, bahkan ujian yang menghampiri adalah bentuk perhatian-Nya agar kita kembali kepada-Nya.
Hijab Sejati: Kelalaian Hati
Sesungguhnya, hijab yang menutup pandangan kita dari Allah hanyalah kelalaian hati kita sendiri. Tatkala hati sibuk dengan dunia, lalai dari dzikir dan syukur, maka dunia yang seharusnya menjadi ayat (tanda) justru berubah menjadi hijab.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa dunia bukanlah tercela karena zatnya, melainkan karena cara hati kita melekat kepadanya. Dunia hanya menjadi hijab bila manusia menganggapnya sebagai tujuan, bukan sarana untuk menuju Allah.
Dunia sebagai Cermin Cahaya-Nya
Bila hati dibersihkan, maka setiap detik kehidupan akan menjadi jalan untuk mengenal Allah. Tidak ada lagi yang dinamakan penghalang, sebab semua ciptaan hanyalah cermin yang memantulkan cahaya Sang Pencipta.
Allah ﷻ berfirman:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, hingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar.”
(QS. Fussilat: 53)
Dengan hati yang bening, seorang hamba akan menyadari bahwa dunia bukanlah hijab, melainkan ayat-ayat yang menuntunnya semakin dekat kepada Allah.
Membersihkan Hati, Mendekat kepada-Nya
Renungan ini mengajarkan kepada kita: jangan pernah beranggapan bahwa dunia menjauhkan kita dari Allah. Dunia hanyalah sarana untuk melihat-Nya. Yang benar-benar menjauhkan hanyalah hati yang lalai, hati yang tidak lagi berdzikir dan bersyukur.
✍️ Oleh Masudi, S.Ag
Mari Beramal: Membantu Santri Yatim & Dhuafa
Kesadaran untuk membersihkan hati harus diwujudkan dengan amal nyata. Salah satunya adalah membantu para santri yatim dan dhuafa agar mereka tetap bisa belajar, menghafal, dan menjaga kalamullah.
💌 Salurkan sedekah terbaikmu melalui:
Bank Syariah Indonesia (BSI)
📌 7274 7274 75
a.n. YYS Zakat Center Thoriqotul Jannah Indonesia
(Kode Bank 451)
📱 WhatsApp: 0857 2437 6426
🌐 www.zakat-center.com
Setiap rupiah yang kita keluarkan bukanlah penghalang, tetapi cahaya yang akan memantulkan ridha Allah dalam hidup kita.
Referensi:
-
Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam.
-
Al-Qur’an Surah Fussilat [41]: 53.
-
Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Beirut: Dar al-Ma‘rifah.
-
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Madarijus Salikin.